
63 tahun yang lalu kemerdekaan dinyatakan
merdeka dari kendali, perintah, pemaksaan dari Belanda. ah...sebenarnya tidak tepat begitu.
Tepatnya, merdeka dari kepala rakyat (tepatnya, gusti) yang disetir Belanda. Kepala rakyat waktu jaman kolonialisme adalah kaum ongkang-ongkang dan kaya raya dengan menjual bangsanya sendiri.
Hubungan rakyat dengan kepala rakyat penuh unggah ungguh, ewuh, prekewuh, taat, mengikuti kebiasaan jaman feodal memberi lahan gembur bagi penindasan antara kepala rakyat dan rakyat , tepatnya kawulo dan gusti. KebijakanSebuah pilihan yang luar biasa dari orang-orang pergerakan, menembus pembelaan mereka pada kenyamanan untuk diri sendiri.
Hubungan kawulo gusti itu ditentang dengan penggunaan bahasa Indonesia yang lebih egaliter. Dan para pemimpin membangun sebutan bung untuk kepala rakyat republik indonesia (rikiblik endonesa, kata mbah saya). Kemudian, watak egaliter dari kaum rikiblik ini menurun, pak karno menerima disebut paduka yang mulia pemimpin besar revolusi. ah mungkin karena itu karena memimpin dengan cara egaliter lebih merepotkan, daripada memimpin dengan meninggikan kewibawaan dan posisi.
Bung Hatta pernah mengusulkan istilah pemerintah diganti pengurus, tetapi usul itu ditolak. Mungkin karena, dalam situasi kocar kacir saat itu, perlu posisi yang berwibawa, namanya pemerintah yang menonjolkan hak dan wewenangnya daripada kewajiban . Istilah pengurus menonjolkan kewajiban pemerintah daripada sisi haknya.
Sekarang, ketika pemerintah lebih menonjolkan hak-haknya, dan memperkaya diri. Sudah saatnya dimensi kewajiban pemerintah lebih ditonjolkan. Pemerintah, mempunyai wewenang pemerintah karena ada tanggungjawab layanan publik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar